Jumat, 28 Desember 2012

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI IMUM POPULASI DEKOMPOSER


LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI IMUM
POPULASI DEKOMPOSER
KIKY WIDYA LOKA
RRA1C410044

ABSTRAK
Tingkat populasi dari spesies bisa banyak berubah sepanjang waktu. Kadangkala perubahan ini disebabkan oleh peristiwa-peristiwa alam. Misalnya perubahan curah hujan bisa menyebabkan beberapa populasi meningkat sementara populasi lainnya terjadi penurunan. Atau munculnya penyakit-penyakit baru secara tajam dapat menurunkan populasi suatu spesies tanaman atau hewan. Sebagai contoh peralatan berat dan mobil menghasilkan gas asam yang dilepas ke dalam atmosfer, yang bercampur dengan awan Dan turun ke bumi sebagai hujan asam. Di beberapa wilayah yang menerima hujan asam dalam jumlah besar populasi ikan menurun secara tajam. Dekomposer adalah makhluk hidup yang berfungsi untuk menguraikan makhluk hidup yang telah mati, sehingga materi yang diuraikan dapat diserap oleh tumbuhan yang hidup disekitar daerah tersebut. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan jumlah mikroorganisme yang terdapat dalam suatu ekosistem yang bekerja membantu menghancurkan bahan organik. Selain itu, mikroorganisme ini juga dapat digunakan sebagai agen pembusuk alami, yang akan mendekomposisi sampah-sampah organik menjadi materi inorganik sehingga dapat mengurangi kuantitas sampah, menyuburkan tanah dan dapat menjadi sumber nutrisi bagi tumbuhan. Praktikum dilakukan pada hari jum’at 07 November 2012, bertempat di hutan sekitar UPT BAHASA UNJA Mendalo.

KATA KUNCI: populasi, decomposer, populasi dekomposer

PENDAHULUAN
Populasi dekomposer merupakan banyaknya sebaran jumlah spesies suatu mikroorganisme pengurai yang mampu menguraikan sisa bahan organik di alam yang diantaranya serasah. Populasi yang tersebar dilingkungan berupa materi makroskopis yang dapat terlihat dengan jelas adalah cacing (Hanafiah, 2003). Sedangkan menurut Naughton (1973) populasi dekomposer merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat kesuburan tanah. Salah satu dekomposer utama yang berperan dalam menentukan kesuburan tanah adalah cacing tanah. Cacing tanah termasuk invertebrata, phylum Annelida, ordo ligochaeta. Cacing tanah tersebut memakan sisa tanaman yang membusuk dan menghasilkan sisa pencernaan (feses) yang merupakan sumber bahan organik tanah.
Dilihat dari fungsinya, semua makhluk hidup dalam suatu ekosistem dapat dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu produsen, konsumen, dan dekomposer. Salah satu bagian penting dari jaring makanan apapun adalah dekomposer,   makhluk hidup yang memakan sisa-sisa organisme lain yang telah mati. Dekomposer (terkadang disebut detritivor) mencakup hewan-hewan kecil seperti serangga dan cacing tanah, namun tahapan terakhir proses penguraian itu dilaksanakan oleh fungi mikroskopik dan bakteri. Satu sentimeter kubik tanah dapat mengandung lebih dari sepuluh juta organisme-organisme itu (Indriyanto, 2005).
Menurut Dwidjoseputro (2005) menjelaskan bahwa ada beberapa genera bakteri yang hidup dalam tanah (misalnya Azetobacter, Clostridium, dan Rhodospirillum) mampu untuk mengikat molekul-molekul nitrogen guna dijadikan senyawa-senyawa pembentuk tubuh mereka, misalnya protein. Jika sel-sel itu mati, maka timbullah zat-zat hasil urai seperti CO2 dan NH3 (gas amoniak). Sebagian dari amoniak terlepas ke udara dan sebagian lain dapat dipergunakan oleh beberapa genus bakteri (misalnya Nitrosomonas dan Nitrosococcus) untuk membentuk nitrit. Nitrit dapat dipergunakan oleh genus bakteri yang lain untuk memperoleh energi daripadanya. Oksidasi amoniak menjadi nitrit dan oksidasi nitrit menjadi nitrat berlangsung di dalam lingkungan yang aerob. Peristiwa seluruhnya disebut nitrifikasi. Pengoksidasian nitrit menjadi nitrat dilakukan oleh Nitrobacter. Proses nitrifikasi ini dapat ditulis sebagai berikut: 2NH3 + 3O2 Nitrosomonas, Nitrosococcus 2HNO2 + 2H2O + energi  2HNO2 + O2 Nitrobacter 2HNO3 + energy.
Kelimpahan cacing tanah pada suatu lahan di pengaruhi oleh ketersediaan bahan organik, keasaman tanah, kelembaban tanah, suhu, atau temperatur. Cacing tanah akan berkembang dengan baik apabila faktor lingkungan tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Keseimbangan lingkungan akan rusak dan berantakan bila cacing tanah sampai mengalami kepunahan, apalagi bila itu akibat ulah manusia. Maka dari itu cacing di gunakan untuk bioindikator tanah. Adanya vegetasi diperkirakan mempengaruhi kondisi fisik tanah, dan pada akhirnya mempengaruhi keberadaan dari cacing tahan tersebut (Hanafiah, 2003).

BAHAN DAN METODE
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah botol semprot, tali rafia, pinset, kayu sebagai plot, toples/botol selei, masker, sarung tangan, lup, sedangkan bahan yang digunakan adalah air sabun pekat atau minyak tanah, air pelarut, formalin 40% dan lahan. Pengamatan ini dilakukan dengan metode mengambil organisme yang ada dilahan yang berfungsi sebagai penghancur dimana sebelumnya dibersihkan serasah penutup tanah dari ekosistem yang akan diamati. Kemudian dibuat petak kuadrat ukuran 1m x 1m. Disediakan larutan formalin 40% sebanyak 25cc dalam 4,5 liter air atau larutan kalium permanganat 0,5% dalam air. Setelah itu pada petak tersebut disemprotkan cairan sabun tersebut, diitunggu sekitar 15-20 menit, bila ada cacing yang keluar maka segera dikumpulkan dengan menggunakan pinset tetapi cacing tidak boleh putus.  Hasil yang di peroleh di simpan ke dalam larutan formalin 40%. lalu diidentifikasi jenisnya.


HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL

Spesies
Jumlah Organisme per kelompok

Jumlah
I
II
III
IV
V
Cacing
3
1
2
3
9
18
Kelabang
1
1
3
1
2
8
Rayap
5
4
28
3
2
42
Keluing
1
-
3
1
2
7
Lainnyan
-
-
3
-
-
3
Jumlah
10
6
39
8
15
78









PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini yang berjudul populasi dekomposer yang menurut Hanafiah (2003) populasi dekomposer merupakan banyaknya sebaran jumlah spesies suatu mikroorganisme pengurai yang mampu menguraikan sisa bahan organik di alam yang diantaranya serasah. Populasi yang tersebar dilingkungan berupa materi makroskopis yang dapat terlihat dengan jelas adalah cacing.
Metode yang dilakukan adalah penyiraman formalin pada plot media yang telah praktikan buat sendiri. Penyemprota dilakukan bertujuan agar dekomposer yang ada didalam tanah  keluar kepermukaan tanah. Pada 10 menit pertama hanya beberapa cacing yang muncul, hal ini bisa dikarenakan keadaan tanah yang belum terlalu jenuh. Setelah 25-30 menit setelah penyiraman formalin pada tanah barulah cacing banyak dijumpai, hal ini bisa disebabkan oleh keadaan tanah yang sudah mulai jenuh. Kemudian tanah dicongkel secara hati-hati guna untuk mendapatkan cacing serta hewan lainnya dan pada saat perlakuan ini cacing banyak ditemukan, dan bukan hanya cacing yang ditemukan rayap, kelabang,keluing serta hewan dekomposer lainnya ditemukan. Berbedanya data dan perolehan hewan dekomposer pada masing-masing kelompok dapat dikarenakan oleh struktur dan kelembaban tanah yang berbeda.
Menurut Indriyanto (2005), cacing adalah salah satu jenis dekomposer. Pemilihan cacing untuk diamati karena cacing memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dekomposer tanah lainnya. Cara pengklasifikasian yang digunakan adalah dengan mengklasifikasikan cacing berdasarkan panjang tubuhnya. Cacing yang didapatkan sebagian besar memiliki kepala yang berwarna merah dengan badan merah muda. Cacing tersebut dikeluarkan dari tanah dengan cara menyiramkan formalin 40% ke tanah seperti yang dijelaskan oleh Suin (1989).
Jumlah cacing yang telah ditemukan dalam populasi yang diamati, terdapat banyak populasi hewan dekomposer didalamnya. Terbukti pada data yang menunjukkan angka tinggi terhadap jumlah decomposer tangkapannya. Umumnya cacing yang didapat berukuran kecil, hal ini dapat dikarenakan oleh jenis cacing pengurai yang berada dalam keadaan lembab di daerah hutan umumnya adalah jenis dari cacing yang memang berukuran kecil (Naughhton, 1973).
Hardjowigeno (2007) menjelaskan bahwa suatu perubahan bahan organik kasar menjadi humus hanya terjadi karena adanya organisme hidup di dalam atau diatas tanah dan saling berhubungan satu sama lain dengan lingkungan dalam pem bentukan humus tumbuhan yang merupakan produsen utama. Sisa-sisa tanaman itu menjadi sumber makanan bagi organisme yang menjadi konsumen utama, begitu seterusnya menjadi humus.

KESIMPULAN
Dari praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa bukan hanya cacing yang menjadi dekomposer didalam tanah. Rayap,  kelabang, keluing dan hewan lainnya serta mikroorganisme mikroskopis pun juga berperan menjadi dekoposer pada tanah.  Jumlah cacing yang didapat tergantung pada struktur tanah yang berbeda, kelembaban tanah yang berbeda. Dekomposer berperan dalam menguraikan sisa-sisa makhluk hidup yang telah mati. Sehingga sisa-sisa tersebut tidak terus menumpuk.

DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Imagraph.
Hanafiah, Kemas Ali. 2003. Biologi Tanah. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Harjowigeno, Sarwono. 2007. Ilmu Tanah. Jakarta : Akademi Pressindo Deterjen
Indriyanto. 2005. Ekologi Hutan. Bumi Aksara. Jakarta
Naughhton. 1973. Ekologi Umum edisi Ke 2. UGM Press : Yogyakarta
Suin, N.M. 1989. Ekologi Hewan Tanah. Jakarta : Bumi Aksara