LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI IMUM
POPULASI DEKOMPOSER
KIKY WIDYA LOKA
RRA1C410044
ABSTRAK
Tingkat populasi dari spesies bisa banyak berubah sepanjang waktu. Kadangkala
perubahan ini disebabkan oleh peristiwa-peristiwa alam. Misalnya perubahan
curah hujan bisa menyebabkan beberapa populasi meningkat sementara populasi
lainnya terjadi penurunan. Atau munculnya penyakit-penyakit baru secara tajam
dapat menurunkan populasi suatu spesies tanaman atau hewan. Sebagai contoh
peralatan berat dan mobil menghasilkan gas asam yang dilepas ke dalam atmosfer,
yang bercampur dengan awan Dan turun ke bumi sebagai hujan asam. Di
beberapa wilayah yang menerima hujan asam dalam jumlah besar populasi ikan
menurun secara tajam.
Dekomposer adalah makhluk hidup yang berfungsi untuk menguraikan makhluk hidup
yang telah mati, sehingga materi yang diuraikan dapat diserap oleh tumbuhan
yang hidup disekitar daerah tersebut. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan jumlah
mikroorganisme yang terdapat dalam suatu ekosistem yang bekerja membantu
menghancurkan bahan organik. Selain itu, mikroorganisme ini juga
dapat digunakan sebagai agen pembusuk alami, yang akan mendekomposisi
sampah-sampah organik menjadi materi inorganik sehingga dapat mengurangi
kuantitas sampah, menyuburkan tanah dan dapat menjadi sumber nutrisi bagi
tumbuhan. Praktikum dilakukan pada hari
jum’at 07 November 2012, bertempat di hutan sekitar UPT BAHASA UNJA Mendalo.
KATA
KUNCI: populasi, decomposer, populasi dekomposer
PENDAHULUAN
Populasi dekomposer merupakan banyaknya sebaran jumlah
spesies suatu mikroorganisme pengurai yang mampu menguraikan sisa bahan organik
di alam yang diantaranya serasah. Populasi yang tersebar dilingkungan berupa
materi makroskopis yang dapat terlihat dengan jelas adalah cacing (Hanafiah, 2003).
Sedangkan menurut Naughton (1973) populasi dekomposer merupakan salah satu
faktor yang menentukan tingkat kesuburan tanah. Salah satu dekomposer utama
yang berperan dalam menentukan kesuburan tanah adalah cacing tanah. Cacing
tanah termasuk invertebrata, phylum Annelida, ordo ligochaeta. Cacing tanah
tersebut memakan sisa tanaman yang membusuk dan menghasilkan sisa pencernaan
(feses) yang merupakan sumber bahan organik tanah.
Dilihat
dari fungsinya, semua makhluk hidup dalam suatu ekosistem dapat dibedakan dalam
tiga kelompok, yaitu produsen, konsumen, dan dekomposer. Salah satu bagian
penting dari jaring makanan apapun adalah dekomposer, makhluk hidup yang memakan sisa-sisa
organisme lain yang telah mati. Dekomposer (terkadang disebut detritivor)
mencakup hewan-hewan kecil seperti serangga dan cacing tanah, namun tahapan
terakhir proses penguraian itu dilaksanakan oleh fungi mikroskopik dan bakteri.
Satu sentimeter kubik tanah dapat mengandung lebih dari sepuluh juta
organisme-organisme itu (Indriyanto, 2005).
Menurut Dwidjoseputro (2005) menjelaskan bahwa ada beberapa
genera bakteri yang hidup dalam tanah (misalnya Azetobacter, Clostridium, dan
Rhodospirillum) mampu untuk mengikat molekul-molekul nitrogen guna dijadikan
senyawa-senyawa pembentuk tubuh mereka, misalnya protein. Jika sel-sel itu
mati, maka timbullah zat-zat hasil urai seperti CO2 dan NH3 (gas amoniak).
Sebagian dari amoniak terlepas ke udara dan sebagian lain dapat dipergunakan
oleh beberapa genus bakteri (misalnya Nitrosomonas dan Nitrosococcus) untuk
membentuk nitrit. Nitrit dapat dipergunakan oleh genus bakteri yang lain untuk
memperoleh energi daripadanya. Oksidasi amoniak menjadi nitrit dan oksidasi
nitrit menjadi nitrat berlangsung di dalam lingkungan yang aerob. Peristiwa
seluruhnya disebut nitrifikasi. Pengoksidasian nitrit menjadi nitrat dilakukan
oleh Nitrobacter. Proses nitrifikasi ini dapat ditulis sebagai berikut: 2NH3
+ 3O2 Nitrosomonas, Nitrosococcus 2HNO2 + 2H2O
+ energi 2HNO2 + O2
Nitrobacter 2HNO3 + energy.
Kelimpahan cacing tanah pada suatu
lahan di pengaruhi oleh ketersediaan bahan organik, keasaman tanah, kelembaban
tanah, suhu, atau temperatur. Cacing tanah akan berkembang dengan baik apabila
faktor lingkungan tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Keseimbangan lingkungan
akan rusak dan berantakan bila cacing tanah sampai mengalami kepunahan, apalagi
bila itu akibat ulah manusia. Maka dari itu cacing di gunakan untuk
bioindikator tanah. Adanya vegetasi diperkirakan mempengaruhi kondisi fisik
tanah, dan pada akhirnya mempengaruhi keberadaan dari cacing tahan tersebut (Hanafiah, 2003).
BAHAN
DAN METODE
Alat
yang digunakan pada praktikum kali ini adalah botol semprot, tali rafia,
pinset, kayu sebagai plot, toples/botol selei, masker, sarung tangan, lup,
sedangkan bahan yang digunakan adalah air sabun pekat atau minyak tanah, air
pelarut, formalin 40% dan lahan. Pengamatan ini dilakukan dengan metode
mengambil organisme yang ada dilahan yang berfungsi sebagai penghancur dimana
sebelumnya dibersihkan serasah penutup tanah dari ekosistem yang akan diamati.
Kemudian dibuat petak kuadrat ukuran 1m x 1m. Disediakan larutan formalin 40%
sebanyak 25cc dalam 4,5 liter air atau larutan kalium permanganat 0,5% dalam
air. Setelah itu pada petak tersebut disemprotkan cairan sabun tersebut,
diitunggu sekitar 15-20 menit, bila ada cacing yang keluar maka segera dikumpulkan
dengan menggunakan pinset tetapi cacing tidak boleh putus. Hasil yang di peroleh di simpan ke dalam
larutan formalin 40%. lalu diidentifikasi jenisnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
|
Spesies
|
Jumlah
Organisme per kelompok
|
Jumlah
|
||||
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
||
|
Cacing
|
3
|
1
|
2
|
3
|
9
|
18
|
|
Kelabang
|
1
|
1
|
3
|
1
|
2
|
8
|
|
Rayap
|
5
|
4
|
28
|
3
|
2
|
42
|
|
Keluing
|
1
|
-
|
3
|
1
|
2
|
7
|
|
Lainnyan
|
-
|
-
|
3
|
-
|
-
|
3
|
|
Jumlah
|
10
|
6
|
39
|
8
|
15
|
78
|
|
|
|
|
|
|
|
|
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini
yang berjudul populasi dekomposer yang menurut Hanafiah (2003) populasi dekomposer
merupakan banyaknya sebaran jumlah spesies suatu mikroorganisme pengurai yang
mampu menguraikan sisa bahan organik di alam yang diantaranya serasah. Populasi
yang tersebar dilingkungan berupa materi makroskopis yang dapat terlihat dengan
jelas adalah cacing.
Metode yang dilakukan
adalah penyiraman formalin pada plot media yang telah praktikan buat sendiri. Penyemprota
dilakukan bertujuan agar dekomposer yang ada didalam tanah keluar kepermukaan tanah. Pada 10
menit pertama hanya beberapa cacing yang muncul, hal ini bisa dikarenakan
keadaan tanah yang belum terlalu jenuh. Setelah 25-30 menit setelah penyiraman
formalin pada tanah barulah cacing banyak dijumpai, hal ini bisa disebabkan
oleh keadaan tanah yang sudah mulai jenuh. Kemudian tanah dicongkel secara
hati-hati guna untuk mendapatkan cacing serta hewan lainnya dan pada saat
perlakuan ini cacing banyak ditemukan, dan bukan hanya cacing yang ditemukan
rayap, kelabang,keluing serta hewan dekomposer lainnya ditemukan. Berbedanya
data dan perolehan hewan dekomposer pada masing-masing kelompok dapat
dikarenakan oleh struktur dan kelembaban tanah yang berbeda.
Menurut
Indriyanto (2005), cacing adalah salah satu jenis dekomposer. Pemilihan cacing
untuk diamati karena cacing memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan
dekomposer tanah lainnya. Cara pengklasifikasian yang digunakan adalah dengan
mengklasifikasikan cacing berdasarkan panjang tubuhnya. Cacing yang didapatkan
sebagian besar memiliki kepala yang berwarna merah dengan badan merah muda.
Cacing tersebut dikeluarkan dari tanah dengan cara menyiramkan formalin 40% ke
tanah seperti yang dijelaskan oleh Suin (1989).
Jumlah
cacing yang telah ditemukan dalam populasi yang diamati, terdapat banyak
populasi hewan dekomposer didalamnya. Terbukti pada data yang menunjukkan angka
tinggi terhadap jumlah decomposer tangkapannya. Umumnya cacing yang didapat
berukuran kecil, hal ini dapat dikarenakan oleh jenis cacing pengurai yang
berada dalam keadaan lembab di daerah hutan umumnya adalah jenis dari cacing
yang memang berukuran kecil (Naughhton, 1973).
Hardjowigeno
(2007) menjelaskan bahwa suatu perubahan bahan organik kasar menjadi humus
hanya terjadi karena adanya organisme hidup di dalam atau diatas tanah dan
saling berhubungan satu sama lain dengan lingkungan dalam pem bentukan humus
tumbuhan yang merupakan produsen utama. Sisa-sisa tanaman itu menjadi sumber
makanan bagi organisme yang menjadi konsumen utama, begitu seterusnya menjadi
humus.
KESIMPULAN
Dari
praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa bukan hanya cacing yang
menjadi dekomposer didalam tanah. Rayap,
kelabang, keluing dan hewan lainnya serta mikroorganisme mikroskopis pun
juga berperan menjadi dekoposer pada tanah.
Jumlah cacing
yang didapat tergantung pada struktur tanah yang berbeda, kelembaban tanah yang
berbeda. Dekomposer berperan dalam
menguraikan sisa-sisa makhluk hidup yang telah mati. Sehingga sisa-sisa
tersebut tidak terus menumpuk.
DAFTAR
PUSTAKA
Dwidjoseputro,
D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Imagraph.
Hanafiah,
Kemas Ali. 2003. Biologi
Tanah. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Harjowigeno,
Sarwono. 2007. Ilmu
Tanah. Jakarta : Akademi Pressindo Deterjen
Indriyanto. 2005. Ekologi Hutan. Bumi Aksara. Jakarta
Naughhton.
1973. Ekologi Umum edisi Ke 2. UGM
Press : Yogyakarta
Suin,
N.M. 1989. Ekologi Hewan Tanah.
Jakarta : Bumi Aksara